Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Akhir Masa Sekolah

"selalu ada akhir dari sebuah awal, selalau ada rindu di balik sebuah pertemuan" jika berbicara tentang akhir maka kita akan kembali kepada masa masa dimana awal menjadi bagian paling penting untuk menuliskan sebuah cerita . setiap orang pasti akan merasakan bagaimana sulitnya mengakhiri apalagi untuk sesuatu yang membahagiakan. karena hal yang paling menyedihkan dari sebuah kebahagiaan adalah mengetahui bahwa semua itu akan segera berakhir. berbicara tentang akhir, apalagi akhir masa sekolah.... entah harus bahagia atau sedih, lega atau justru bertambah tanggung jawab yang lebih besar. pastinya kita akan diberi pertanyaan yang lahir dari dan untuk diri sendiri. akan menjadi seperti apakah kita setelah ini? setelah menyandang gelar "lulus". itu bukan hanya sekedar pertanyaan, melainkan tanggung jawab mengenai apa yang saya dapatkan selama sekolah, apa yang saya pelajari dan bagaimana diri ini menjadi seseorang yang pantas dikatakan seorang pelajar. disini saya t...

Tuhan memang sedang menggodaku

Ada hari-hari dimana keburukan seperti mengumpul dan menjadi palu godam yang menghantam nasibmu. Ada hari-hari dimana engkau merasa telah melakukan segalanya sebaik-baiknya, mengikuti dengan hati-hati semua jalan Tuhan, tapi yang engkau terima adalah dukacita. Ya, secara kemanusiawi kita wajar berteriak histeris, memaki-maki, dan mempertanyakan dimana keadilan Tuhan. Ya, sebagian besar orang yang pernah hdup di muka bumi ini akan melakukan hal yang sama, untuk semua hal buruk yang terjadi maka jawaban yang paling masuk akal adalah menyalahkan apa saja, siapa saja, selain diri sendiri tentu saja. Tapi jika engkau memilih menerima dengan besar hati dan bersyukur atas semua 'keburukan' yang terjadi, akan engkau temukan di akhir hari bahwa Tuhan hanya menggoda. Kutipan di atas adalah bentuk kekaguman saya kepada Bapak M.Arief Budiman, dialah penulis buku “Tuhan Sang Penggoda” yang sempat menyita perhatian saya. Membuat saya rela menghabiskan waktu untuk menelan kalimat...

secangkir rindu

saya tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengaduk aduk rindu yang telah lama mengendap. pagi seharusnya menjadi saat seluruh nafas kembali terlahir, seluruh tawa kecil kemudian mulai dibangun dan sebuah mimpi mimpi besar dikemas dalam rangkain doa yang pada akhirnya kita hanya berserah kepada yang memberi hidup. "saya rindu menulis".... begitu yang disampaikan secangkir kopi yang didalamnya mengendap bulir bulir rindu. membuat saya eneg dan membiarkannya tenang memelototin saya. beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan dan saya pikir itu salah satu keputusan bodoh yang saya ambil. ketika pikiran, hati dan parahnya jiwa sedang tidak dalam kondisi baik. keputusan bodoh untuk tidak melanjutkan menulis di blog ini. beberapa hari saya jalani tanpa suara suara rayuan yang lahir setiap malam "menulislah..." pada saat itu, telinga tak dapat mendengar dengan jelas desahan malam yang meminta dibuatkan puisi. atau rintihan tangis hujan yang berharap aku kemb...